Merdeka, bukan berarti perjuangan diserahkan. Merdeka, tak berarti semua pembangunan terhenti. Justru hal yang terpenting adalah bagaimana kita bersikap sehingga tak terlena atas pencapaian besar bangsa ini. Perlu dicamkan pada mindset seluruh generasi muda, bahwa para pahlawan berkorban nyawa demi ketenangan kita saat ini. Sudah sepatutnya para pahlawan tersenyum. Hal yang mereka perjuangkan, dapat dengan baik dijaga bahkan ditingkatkan.
Bangsa butuh bukti! Tak perlu omong kosong yang selama ini digebyar-gebyarkan. Bicara banyak tapi hasil nihil.
Setiap bangsa pasti
memiliki tujuan tersendiri. Begitupun Indonesia.
Tujuan merupakan sesuatu yang ingin dicapai. Dalam mencapai tujuan nasional,
suatu bangsa memiliki landasan dan falsafah berupa ideologi. Ideologi Bangsa
Indonesia sendiri adalah pancasila. Sedangkan tujuan Bangsa Indonesia tercantum
dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4. Tujuan akan tercapai bila pola tingkah
laku masyarakatnya sesuai dengan ideologi tersebut. Ideologi Pancasila
yang dimiliki bangsa Indonesia, dibuat dengan memperhatikan budaya dan tradisi
kultural masyarakatnya. Sehingga masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan
ideologi tersebut, serta tidak membuang banyak waktu untuk proses penyesuaian,
lalu waktu yang tersisa dapat digunakan untuk memulai usaha pencapaiannya.
Dalam
hal ini, para generasi muda sangat diperlukan partisipasinya. Hanya mereka
satu-satunya harta penggerak yang dimiliki bangsa. Di tumpuannyalah, nasib
bangsa Indonesia di pertaruhkan. “Perjuanganku lebih mudah karena melawan
penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara
sendiri,” itulah yang pernah dikatakan Ir. Soekarno, presiden pertama Republik
Indonesia. Presiden Soekarno yang saat itu belum mengetahui kondisi saat ini
pun, sudah mengetahui tantangan terberat yang akan dihadapi para generasi muda.
Para pahlawan yang dulu bersatu, saling merangkul untuk melawan penjajah, dan
dengan bergandengan tangan, mereka membuktikan kekuatan ajaib dari persatuan.
Tetapi disinilah tantangan terbesarnya, para generasi muda yang tidak setangguh
para pahlawan, dihadapkan dengan konflik di diri mereka sendiri, Bangsa
Indonesia. Konflik yang lebih memancing emosi dan perasaan. Dan tidak bisa
dipungkiri, bahwa manusia akan lebih garang jika menyangkut perasaan.
Tapi untuk apa para generasi muda yang tidak setangguh pahlawan justru dikerahkan dalam pembangunan?
Pemerintah telah banyak memprogramkan mengenai peningkatan kemandirian, kedisiplinan, tanggungjawab, bahkan moral agama untuk para generasi penerus. Tapi tak terbesit di jiwa mereka sedikitpun untuk menyukseskan program tersebut. Para generasi muda terlena.
Hanya sedikit yang siap.
Mereka menutup telinga dari apa yang diusahakan negara. Mereka seolah tak terganggu sedikitpun atas pengaruh penjajahan pola pikir yang saat ini digemakan para penjajah. Justru mereka yang ikut terjajah. Meski begitu, negara dan bangsa Indonesia percaya bahwa generasi muda itu cerdas. Akhlak mereka dapat dibina sejak dini. Niat mereka dapat diluruskan. Karena sesuatu yang terlihat buruk tak berarti buruk sesungguhnya. Ada kemungkinan terdapat emas didalamnya. Kayu yang muda akan terlihat lemah, tapi saat sudah tua, terlihatlah kokohnya. Begitupun para generasi muda.
Wajar jika saat ini mereka
kesana kemari menikmati masa mudanya, mencari jati diri yang sesungguhnya, tapi
lama-kelamaan, rasa cinta tanah air akan tumbuh, mengikuti alur waktu. Kita
hanya perlu membina, meluruskan, serta membatasi mereka agar tak terlampau
jauh. Karena kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan menjaga bumi lestari ini?
Baca juga postingan Toga dan Menakjubkannya Kehidupan #4: Cerita Tahun Pertama di Jurusan Teknik Geologi ITB (Tahun Kedua di ITB)
Untuk menghindari konflik yang terjadi di dalam tubuh bangsa, diperlukan adanya persatuan dan komitmen dari para generasi penerus. Karena generasi muda merupakan sasaran dari konflik tersebut, sangatlah perlu pembentukan rasa persatuan di jiwa mereka. Dengan adanya rasa kompak, rasa bersatu, dan rasa saling memiliki, kemungkinan terjadinya konflik akan berkurang.
"Takkan ada asap, jika tak ada api" maksud pepatah tersebut dalam konteks ini, bahwa perpecahan akan terjadi bila ada penyulutnya. Dan penyulut tersebut dapat dihilangkan jika didalam jiwa para generasi muda ada rasa bersatu, rasa mencintai tanah air. Rasa persatuan, dan rasa cinta tanah air tersebut bagai tembok batas yang membentengi diri, dan membantu membentuk rasa bangga menjadi bangsa Indonesia.
Dengan begitu, bumi Pertiwi yang dirajut sejak lama dengan rasa merah putih, akan tetap menjadi darah yang mengalir di tubuh bangsa Indonesia, selamanya.
0 Comments