Toga dan Menakjubkannya Kehidupan #1: Cerita Perjuangan Masuk ITB


Setiap wanita pasti bermimpi mengenakan toga dengan riasan cantik dan kebaya menjuntai. Begitupun saya. Besar di keluarga yang membebaskan saya untuk mengambil keputusan, membuat saya berpikir matang-matang akan jalan yang akan saya tempuh kedepannya.


Kuliah atau kerja?


Saya lulusan SMA dan banyak orang bilang bahwa lulusan SMA lebih sulit mendapatkan kerja dibandingkan lulusan SMK yang memang disiapkan untuk dunia kerja. Saya setuju walaupun tidak selalu benar seperti itu. Saya hanya merasa bahwa ilmu yang saya dapatkan di SMA belum cukup bisa mengantarkan saya ke dunia pekerjaan. Masih kurang praktik dan kesiapan yang matang. Akhirnya saya perlahan meyakinkan diri untuk melanjutkan pendidikan dan berjuang meraihnya. Keluarga saya tentunya mendukung itu semua dan mereka memasang badan saat saya membutuhkan sesuatu.


Pertama Kali Mengenal ITB

Saat awal masuk SMA, jujur saya tidak familiar dengan nama-nama kampus, bahkan kampus terkenal sekalipun seperti UI, ITB, dan UGM. Saya hanya mengikuti alur kehidupan tanpa penasaran sedikitpun untuk mencari tau berbagai perguruan tinggi yang ada. 


Nanti aja kelas 12 deh mikirnya, toh masih lama juga


Sekitar pertengahan kelas 10, saya ikut bergabung ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja dan mengambil fokus di bidang astronomi. Awalnya saya bergabung dengan bidang geografi, namun ada beberapa pertimbangan yang menuntun saya untuk beralih ke astronomi. Saya senang ilmu tentang alam, baik bumi maupun di angkasa sana. Saya hanya mengikuti minat untuk bergabung dengan astronomi. Anggota di bidang astronomi juga terbilang sedikit dibandingkan bidang lain seperti matematika atau fisika. Itu hal lain yang membuat saya semakin mantap memilih astronomi. Anggota yang sedikit ini terkadang juga menguntungkan bagi saya, seperti saat ada Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kabupaten. Sekolah saya mengirimkan 3 perwakilan dari setiap bidangnya untuk mewakili sekolah. Sedikitnya  anggota astronomi membuat saya memiliki peluang besar. Di sisi lain, angkatan saya yang tergabung dengan astronomi hanya 2, saya dan teman saya dari jurusan IPS. Hal ini membuat saya auto mewakili sekolah karena memenuhi setiap persyaratan.


Singkat cerita, saya berhasil masuk ke tingkat provinsi, meskipun gagal masuk ke tingkat nasional. Perjalanan tersebut membuat saya, yang masih tidak tau minat diri, mulai menyangka bahwa astronomi adalah minat saya sehingga harus difokuskan. Saya juga mulai mencari tau perguruan tinggi mana yang membuka jurusan astronomi. Akhirnya saya menemukan ITB dan semakin mengenalnya. Saya mulai mencari tau mengenai FMIPA yang menaungi prodi astronomi. Akhirnya tanpa sadar, tertanam di benak saya bahwa SAYA HARUS MASUK ITB!

 

Perjuangan Masuk ITB

Sejak kelas 12 saya mulai memantapkan diri masuk ke ITB. Saya juga sadar betapa mengerikannya masuk ITB hingga kesedihan ditolak ITB. Langkah awal yang penting adalah saya bertekad masuk ITB. Saya membeli papan styrofoam lalu saya menempelkan logo ITB, kata-kata motivasi, dan segala hal yang perlu saya siapkan. Harapannya, setiap kali melihat papan tersebut, saya semakin semangat untuk berjuang.





Masa pendaftaran SNMPTN pun tiba. Saat itu, jika sudah lulus SNMPTN, maka peserta tersebut dilarang mengikuti SBMPTN. Saya pun bimbang. Akhirnya saya memilih FMIPA ITB di pilihan 1 dan FITB ITB di pilihan 2.


Gila? Ya!


Saya akui itu sangat berisiko. Tapi, pikir saya kalaupun tidak lulus SNMPTN toh masih bisa ikut SBMPTN. Daripada lulus SNMPTN di jurusan yang kurang diminati. Saat itu saya merasa optimis bisa lulus SNMPTN di ITB karena melihat angkatan sebelumnya yang bisa diterima ITB dengan nilai rapor yang hampir sama dengan saya. Walaupun di sisi lain, tetap jaga hati untuk tidak terlalu berharap. 


Jangan terlalu berharap, SNMPTN itu untung-untungan

Ditolak itu sedih banget loh, makanya harus punya rencana cadangan


Kalimat-kalimat seperti itu yang biasa saya temui menjelang pengumuman. Tapi, tidak bisa mengelak bahwa saya sangat berharap. Hingga akhirnya kepahitan itu bisa saya rasakan sendiri.


Ya, saya ditolak


Benar-benar rasanya dunia mau hancur. Sedih karena belum ada kepastian berkuliah dimana. Ditambah lagi selama menunggu pengumuman itu, saya belum belajar lebih dalam untuk SBMPTN. Akhirnya yaa, kembali ke realita. Saya mulai bangkit kembali, semangat belajar UTBK karena hanya itu jalan terakhir untuk masuk ITB. Sebenarnya masih ada seleksi mandiri ITB, namun mempertimbangkan banyak hal, sepertinya akan sulit kalau saya disana.


Saya mulai belajar UTBK sebisa saya. Mulai membentuk jadwal belajar yang efektif hingga target saya satu hari bisa mengerjakan satu try out. Try out-nya bisa dari manapun, namun saya biasa mendapatkan informasinya dari instagram. Bagi saya yang cepat bosan, mungkin cara seperti itu cukup membantu.


Hari UTBK pun tiba. Saya mengerjakan UTBK di salah satu SMK di Bandung. Saya mengerjakan soal seperti biasa, banyak pusingnya, banyak istighfar. Hingga baru terasa saat sampai di rumah. Saya menangis karena merasa gagal mengerjakan soal matematika. Menyesal mengapa tidak belajar lebih serius.

Penyesalan selalu datang terakhir bukan?


Saya pun mulai tenang, dan menjalani hidup seperti biasa. Dari sana, saya mulai meneguhkan hati, bahwa kuliah dimanapun, itu pasti yang terbaik. Bukan pesimis, tapi memang itu realitanya. Saya juga saat itu sudah diterima menjadi mahasiswa di Politeknik Negeri Bandung bahkan sudah membayar UKT. Sedikit lebih tenang karena sudah punya rencana cadangan selain di ITB, meskipun masih sangat berharap untuk bisa masuk ITB. Oh iya, sebelum diterima di Polban, saya mengikuti SBMPN yaitu ujian semacam SBMPTN, hanya saja khusus politeknik. Ujiannya menurut saya mirip dengan soal psikotes. Kalau tidak salah, ada sistem minusnya, jadi harus hati-hati saat mengerjakannya.


Akhirnya, sampai pada pengumuman SBMPTN. Pengumuman jam 3 sore, dan saya serasa mau pingsan sejak pagi. Saya tidak berhenti berdoa, berharap lulus kali ini. Hingga akhirnya jam 3 tiba, saya memutuskan untuk shalat Ashar terlebih dahulu. 


Jeng jeng


Akhirnya saya memegang HP dan bersiap membuka pengumuman. Lalu, saya masukkan segala data diri yang diperlukan.


Alhamdulillah 

Saya diterima di ITB!!!!

Tepatnya di FITB ITB. Tangisan saya saat itu mengalir deras. Lega. Bahagia. Bersyukur.


Loh, tapi kenapa di FITB, bukannya saat SNMPTN memilih FMIPA?

Setelah saya ditolak SNMPTN, saya mulai mendefinisikan ulang minat saya. Saya memang suka astronomi, tapi apa itu minat saya? Jika dilihat, saat ada info astronomi berseliweran di instagram, saya seringkali melewatkannya. Seperti tidak tertarik. Menurut saya, seperti dipaksakan untuk memilih astronomi hanya karena ada pengalaman olimpiade, walaupun tidak ada yang memaksa. Saya seperti, “yang penting punya minat dululah!” karena terpepet waktu untuk memilih jurusan. Pelajaran bagi siapapun, sebisa mungkin mengetahui minat sejak dini. Sejak tau hal tersebut, akhirnya di SBMPTN, saya memilih FITB ITB di pilihan 1 dan Meteorologi Terapan IPB di pilihan 2.


Kebahagiaan tak berhenti sampai disitu. Saya juga dinyatakan sebagai penerima Beasiswa Kuliah Anak Gemilang (BKAG) oleh Ruangguru dan Axton Salim. Seleksi beasiswanya memang sudah jauh dilaksanakan sejak kelas 12. Tapi di seleksi akhir, para peserta harus dinyatakan masuk ke universitas negeri. Alhamdulillahnya di setiap seleksi, saya diberi kelancaran dan berhasil hingga akhir. Senang sekali rasanya bisa kuliah di perguruan tinggi impian secara gratis.


Perjuangan akan terus berlanjut. Ingin sekali membagikan pengalaman setelah merasakan kuliah di ITB dan hiruk-pikuk dunia kampus. Semoga di lain kesempatan ya!


Tidak ada kata sia-sia, semua orang berhak bermimpi!