Di postingan #Daily yang pertama ini aku akan membagikan pengalaman mencatatku sejauh ini. Tentunya akan terus aku kembangkan untuk mencari mana cara yang lebih efektif.

Catatan sekolah efektif
Catatan Sekolah | Vitzea


Mengapa Mencatat di Kertas?

Cara belajar setiap orang pasti berbeda. Kebetulan cara belajar yang membuatku cepat menangkap materi adalah dengan mencatat dan membaca ulang catatan tersebut. Jika diperhatikan, ada perubahan signifikan di catatanku saat SMA dan kuliah yang akan aku jelaskan berikutnya.

Namun, mengapa mencatat dengan tulisan tangan lebih efektif?

Meskipun teknologi telah berkembang pesat, baik saat SMA maupun kuliah aku selalu mencatat menggunakan kertas dan pulpen a.k.a manual. Mengetik dengan gadget memang menawarkan kepraktisan, tapi menurutku mengetik membuat lebih sulit dalam memahami materi.


Mencatat itu ibarat kita mengisi ruang-ruang yang kosong. 
Jika kita upayakan dengan tangan kita sendiri, itu akan lebih bermakna dan hasilnya tahan lama.


Menurut hasil riset Universitas Princeton, tulisan tangan lebih efektif membuat siswa mengingat pelajaran. Di sisi lain, alasan pribadiku memilih menulis dibandingkan mengetik karena entah kenapa lebih cepat paham kalau lihat tulisan sendiri. Sering coba untuk lihat beberapa catatan teman yang super rapi, tapi ya begitu, lebih sreg kalau lihat catatan sendiri. 

Peralatanku Membuat Catatan

Binder

Dalam membuat catatan dengan tulisan tangan, tentunya kita membutuhkan kertas. Biasanya, aku menggunakan binder berukuran B5 yang menurutku ukurannya pas, tidak terlalu besar atau kecil. Saat SMA, aku lebih sering menggunakan loose leaf berwarna putih gading dengan pola grid atau dot. Alasannya sederhana, demi estetika. Namun, saat mulai berkuliah, aku kembali ke binder pada umumnya, dengan loose leaf putih bergaris. Selain lebih murah, sebenarnya aku hanya membutuhkan kertas sederhana yang mungkin akan dipakai untuk corat-coret semata. Jadi, sayang kalau harus pakai loose leaf putih gading yang lebih mahal.

Untuk bindernya, aku memakai binder biasa namun berbentuk notebook ring. Lebih ringkas dan mudah dibawa. Berbeda dari notebook yang bisa dibuka 360 derajat, binder notebook ini hanya bisa dibuka 180 derajat. Hanya itu minusnya menurutku.

Biar lebih terbayang bentuknya, kalian bisa cek di sini

Pulpen

Untuk alat tulisnya, standarnya menggunakan pulpen apapun. Tetapi, aku lebih memilih pulpen merk Zebra Kokoro yang menurutku sangat enak dipakai. Minusnya, bagian bawahnya tidak ada grip karet sehingga saat terlalu lama menulis, jari akan terasa sakit dan berbekas. Akhir-akhir ini, aku juga sering lihat bahwa pulpen Kokoro ini banyak dipakai orang-orang atau studygram

Kokoro ini Sarasa versi murah. Katanya.

Selain itu, pulpen berwarna-warni bisa menjadi pilihan. Usahakan minimal ada 2 pulpen warna selain hitam di tempat pensil untuk memberikan efek berbeda saat mencatat. Catatan yang berwarna juga bisa memudahkan dalam mengingat, lho! Tapi, warnanya jangan berlebihan, secukupnya saja. Pulpen berwarna putih juga bisa kalian gunakan saat menghias judul dan bagian-bagian tertentu agar semakin menarik. Pulpen putih yang biasa aku gunakan adalah pulpen merk Sakura.

Highlighter

Menurutku, ini cukup penting. Highlighter menjadi peralatan yang selalu aku bawa selain pulpen. Selain bisa digunakan untuk menandai hal-hal penting, highlighter bisa digunakan juga untuk membuat lettering aesthetic atau membuat subjudul. Highlighter yang cukup terkenal adalah dari Zebra Mildliner. Highlighter yang punya 2 tip, yaitu highlighter dan spidol. Minusnya, harganya cukup mahal buat pelajar. Sekitar Rp18.000 untuk 1 warna. Untuk mengakalinya, sekarang sudah banyak brand yang membuat highlighter serupa, seperti Joyko ataupun Kenko yang tentunya lebih murah.

Brush pen

Brush pen adalah semacam kuas yang biasanya digunakan untuk lettering. Brush pen bisa memberikan efek tebal dan tipis sesuai penekanan yang kita berikan. Selain untuk lettering, biasanya aku menggunakan brush pen sebagai highlighter. Merk brush pen yang terkenal adalah Tombow. Namun, harganya kurang ramah di kantong pelajar.



Washi tape dan sticker

Ini adalah peralatan tambahan. Tentu tidak wajib. Washi tape dan sticker hanya dibutuhkan oleh kalian yang ingin catatannya aesthetic ala studygram. Beberapa orang lebih mudah memahami jika catatannya menarik. Jadi, pastikan dulu kamu tipe yang mana dalam mencatat.


Catatan Saat SMA

Saat SMA, aku sedang semangatnya untuk mencatat. Maklum, persiapan untuk masuk perguruan tinggi. Semangat saat itu membuatku mencatat dengan sepenuh hati, berwarna-warni, sehingga tampilannya menarik. Hanya satu harapannya, aku akan terus tertarik membaca materi tersebut.

Saking tertariknya dengan mencatat, dulu sempat coba membuat akun studygram untuk merekam perjalanan mencatatku. Berharap bisa lebih konsisten mencatat serta bisa mengenal orang-orang yang senang juga dalam mencatat. Sekitar beberapa bulan berjalan, banyak sekali inspirasi mencatat yang kudapatkan dari membuat akun studygram. Hingga akhirnya, kesibukan mulai menghantui, dan akun itu kurang terurus.
Hiatus.



Seperti ini contoh catatanku saat SMA. Jujur, lebih menarik dan enak dilihat. Tapi memang memakan waktu yang lebih lama sehingga terkadang lebih fokus untuk mencatat daripada memahami materi.

Untuk membuat catatan seperti itu, aku membutuhkan hampir semua dari peralatan yang aku sebutkan di atas. Untuk washi tape dan sticker, jarang kugunakan karena kurang suka kalau catatannya terlalu heboh. Sebenarnya, bisa saja hanya menggunakan pulpen dan highlighter. Seperti yang kusebutkan di atas, highlighter bisa digunakan juga untuk membuat lettering. Jadi lebih hemat biaya.

Kalau kalian tertarik lihat catatan lainnya, silakan berkunjung ke instagram Pit.studies ya! Dengan senang hati kuterima.


Catatan Saat Kuliah

Entah kenapa, semangat mencatat sewaktu SMA menjadi hilang di telan bumi. Mindset-ku saat ini adalah bahwa kuliah itu tidak perlu catatan menarik, yang penting ikut kelas dan memperhatikan. Di tambah lagi, dari dulu sering dengar kalau "Nanti pas kuliah, kamu gak akan sempat untuk mencatat". Ternyata memang benar. Mencatat saat kelas menjadi hal yang paling melatih fokus dan kelincahan. Dosen akan terus menjelaskan materi tanpa peduli ada yang mencatat. Di balik itu semua, ada satu hal yang paling....

PENTING!

Bagi kalian para manusia sepertiku yang tidak bisa ber-multi tasking, lebih baik fokus pada apa yang dijelaskan dosen. Jujur saja, selagi aku mencatat, terkadang fokusku beralih ke tulisan, bukannya penjelasan materi. Apalagi catatanku sering tertinggal dari kecepatan dosennya berbicara, alhasil makin tidak fokus.

Aku biasanya akan mencatat hal-hal yang paling penting dan tidak ada di PPT ataupun buku. Lalu, setelah kelas selesai atau saat ada waktu senggang, aku mulai merapikan catatannya. Jadi, dari awal masuk kuliah, bahasan tentang catat-mencatat bukan menjadi hal yang menarik lagi. 

Di perkuliahan, aku tetap menggunakan binder demi kepraktisan. Untuk peralatannya, kebanyakan hanya menggunakan pulpen hitam dan pulpen warna. Namun, jika sedang niat, aku juga menggunakan highlighter. Meskipun menggunakan highlighter dan pulpen berwarna, tetap saja, catatanku terlihat seperti 'ceker ayam' karena kalah ngebut sama penjelasan dosen.


Catatan kuliah aesthetic
Catatan Kuliah | Vitzea

Seperti itulah, catatanku saat kuliah. 

Malu duh

Menurutku, catatan ala kadarnya seperti ini sudah cukup untuk memahami materi kuliah. Di kampus, biasanya dosen akan membagikan PPT berisi materi yang dijelaskan sehingga bisa digunakan untuk sumber belajar selain catatan pribadi. Kalian juga bisa melihat catatan teman untuk melengkapi catatan kalian.



Itulah pengalamanku tentang mencatat. Intinya, apapun model catatan kalian, serapi apapun catatan kalian, tujuannya tetaplah sama yaitu untuk mengumpulkan informasi. Kalian harus mengenal diri kalian serta cara belajar yang sesuai, sehingga bisa membuat catatan yang lebih efektif.

Lalu, bagaimana cara kalian mencatat selama ini?
Coba tuliskan di kolom komentar!